Ketimpangan

Hari ini saya sedang ingin berkeluh kesah.

Saat ini saya sedang mengelola Laboratorium mekatronik research, program ini adalah kolaborasi pemda dan komunitas kami. Pemda meminjamkan tempat, dan karna lokasinya berada di area taman maka kami tidak perlu repot lagi soal listrim karna sudah ada dinas terkait yang mengurusinya. Sedangkan untuk operasional, konsumsi dan tenaga mentor dari komunitas kami karna ini adalah program relawan.

Sudah hampi 6 bulan kami menempati ruangan ini, dan 2 hari ini kami lumpuh tidak bisa melakukan apapun karna listrik padam. Kenapa padam ? karna vouchernya habis.

Sebenarnya kami tidak menyalahkan dinas terkait yang mengurusi ini, karna waktu memang sudah jam pulang kerja tapi saya pribadi hanya bingung. Biasanya dengan angka 1 juta lebih listrik bisa bertahan sebulan lebih tapi kali ini listrik hanya bertahan 2 minggu. Kami sudah mulai seakan saling menyalahkan karna intensitas pemakaian, sampai salah seorang petugas penjaga mendatangi kami “kak, ada yang menyambung listrik kesini”.

Sontak saya kaget dan bingung lalu saya mengajak petugas lokasi mendatangi yang bersangkutan. Dan seperti inilah percakapan kami.

A: saya

B: Teman panjaga taman

C: Yang menyambung listrik

B: “Bu, apa betul yang menyambung listrik”

C:”Iya, saya”

B:”Siapa yang mengizinkan bu ? kenapa kami tidak tau”

C:”…………yang mengizinkan karna ini juga kantinnya ……….”

A:”Bu, harusnya bilang. Dsana itu Lab dan rumah baca bu, aktivitas kami banyak apalagi yg Lab itu tempat kami buat karya bu. Tau nda bu ? Kalo seperti ini, listrik mati kami biasanya mengisi sendiri 20rb dari hasil ngumpul uang sesama relawan”

C:”Tunggu, saya telpon dulu……”

A:”iya bu, telpon nanti kami bicara”

Ibu itu lalu pergi, dan tidak lama kembali ke kami

C:”Saya sudah telpon, tidak perlu berurusan sama saya nanti …..yang berurusan sama….”

What ?? oke fine.

Yup hari ini saya sadar kenapa ada banyak orang yang kadang tidak respect sama sebagian pejabat. Karna sebagian pejabat itu suka seenaknya saja.

Dan kami ?? yah sampai hari ini kami lumpuh, tidak melakukan apapun sedangkan deadline pengiriman karya kami sudah mepet ditambah lagi dompet kami sedang menipis jadi tidak bisa mengisi voucher.

Benar kata kawan saya, ketimpangan itu masih ada dimana-mana, itu bisa hilang jika dunia ini kiamat fin.

Bulukumba, April 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s