Ketimpangan #2

Saya sedang ingin berkeluh kesah.Saya sering bertemu dengan orang yang merasa terluka lalu dia menceritakan lukanya. Saya mempercayainya, memahaminya tapi mengacuhkannya karna terkadang saya berpikir, terlalu kekanak-kanakan.

Saya pun sebenarnya sudah pernah merasa luka tapi menepisnya, namun hari ini saya baru sadar luka itu memang kadang menyayat, menganga dan perih.

Hampir 2 tahun ini saya memilih kembali pulang, yang sebelumnya banyak beraktifitas di luar daerah. Kadang pula ikut berkompetisi di ajang nasional. Dan 2015 lalu saya dan teman saya mulai membawa nama daerah di tiap kompetisi dan penghargaan karna sebagai bukti kecintaan kami pada daerah (Sok yah. heheheh) bahkan di dunia Internasional pun kami tak pernah lupa memperkenalkan daerah kami. Hingga panggilan untuk kembali ke daerah kami turuti dengan harapan kami bisa berkontribusi.

Namun nyatanya kami masih belum mampu berkontribusi. Khususnya saya sendiri, beberapa tahun lalu hingga kini saya memilih sesekali ke beberapa lokasi sulit terjangkau , belajar bersama adik-adik dan sungguh anugrah luar biasa atas kasih sayang dari keluarga disana. Lalu saya mulai membuka kelas-kelas kerajinan, selain karna menyukai kerajinan saya berharap ada banyak perempuan yang bisa memulai usaha kerajinan seperti saya. Setahun lalu, sebagai buah dari perjuangan kami setelah kembali dari luar negeri, Intel Indonesia memberi kami peralatan Lab untuk pengembangan karya. Dan bersyukur karna PEMDA meminjami kami tempat untuk lab itu. Dan pastinya kegiatan kami adalah kegiatan RELAWAN tanpa dibayar. Lewat Lab ini, kami mendampingi adik-adik SMA yg ingin berkarya, untuk apa ? karna kami hanya ingin ada banyak anak-anak Bulukumba yang bisa mendapatkan kesempatan berkompetisi hingga Internasional seperti kami dan membuktikan pada dunia bahwa Bulukumba tak hanya terkenal karna wisatanya tapi juga karna karya anak mudanya yang fashion kami ada di IOT. Lewat Lab ini pula, kami mengadakan pelatihan-pelatihan kecil seperti Website dan desain grafis untuk masyarakat umum yang ingin belajar.

Yah, itu adalah sebagian dari keseluruhan yang kami kerjakan, walaupun bagi kami belum mampu dikategorikan sebagai konstribusi. Bahagia, pastinya karna kami bisa menebar kasih sayang dengan cara kami.

Namun hari ini, saya menyadari jika luka itu ada. Luka karna dianggap bersalah. Padahal kami hanya memprotes “Ketimpangan” tapi sepertinya Bom kesalahan berbalik ke arah kami. Saya lalu diminta untuk diam, yah saya memilih diam dan menguburnya dalam pikiranku. Alasan lain, karna saya tidak beberapa teman menjadi disalahkan.

Kami banyak belajar hari ini, namun saya tidak menyalahkan keseluruhan. Tapi hanya begtu kecewa pada satu dari keseluruhan itu. Semoga setelah hari ini saya tidak mengalami luka seperti ini.

Kembali saya bilang, jika ada 1 orang yang membencimu, yakinlah ada 10 orang di luar sana yang menyayangimu.

Bulukumba, April 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s