Perjalan Minoritas

 

foggy_forest_01_by_sacral_stock-d74yjpg.jpg

Tiba-tiba saja saya ingin menulis tentang perjanan saya ke Myanmar di tahun 2016 kemarin. Mungkin karna maraknya aksi terorisme beberapa hari ini. Saya sepakat dengan beberapa pendapat yang mengatakan bahwa pelaku bom itu “ISLAM” yang katanya sedang berjihad, namun cara ber”islam” mereka yang beda. Aksi bom bunuh diri di 3 gereja kali ini serasa menyayat hati, karna aksi tersebut bertepatan di hari ibadah kaum kristiani. Is not only kill lives but also kill the heart, seakan menambah rentetan kecurigaan non-muslim kepada kaum muslim. Walaupun di luar sana teriakan bahwa mereka bukan Islam, dan dukungan non-muslim kepada Muslim tetap saja akan ada hati yang pilu karna kejadian ini.

“Menambah rentetan kecurigaan” inilah yang pernah saya alami ditahun 2016 kemarin. Kala itu saya dipercaya untuk menjadi mewakili komunitas saya di Indonesia untuk mempersentasekan program kami di forum Internasional yang saat itu di adakan di Nay Pwi Taw, Myamnar. Sebelum berangkat berungkali Pembina menanyakan kesiapan saya untuk berangkat, karna pada saat itu Myamnar sedang bergejolak dengan kasus Rohingyya (pembantaian muslim Rohingya) dan karena saya harus berangkat sendiri. Walaupun ada sedikit ketakutan tapi saya selalu percaya bahwa ada Allah ditiap perjalananku.

Beberapa hari sebelum berangkat semua tiket pesawat, penginapan dan administrasi selesai. Saya mengantongi semua document termasuk tiket dan voucher penginapan (hotel). Namun 2 hari sebelum berangkat, pihak kantor mengakabari bahwa Hotel tujuan menolak permintaan yang artinya SAYA DITOLAK” tanpa alasan yang jelas katanya. Lalu kemudian kantor memilih hotel lain dan tetap sama “DITOLAK”. Dini hari di sekretariat komunitas (tempat nginap ) saya menunaikan shalat sunnat 2 rakaat lalu berdoa dan meminta petunjuk “Apakah saya tetap harus pergi atau membatalkannya”. Dan keesokan harinya saya mendapat kabar kalo sudah ada hotel yang menerima. Leganya rasanya. Setidaknya saya bisa merasa aman dengan adanya penginapan yang katanya juga dekat dari lokasi acara.

Jam 09.00 saya berangkat menuju bandara Suwarnabumi Thailand, ini bukan perjalan transit tapi karna belum ada pesawat langsung dari Indonesia ke Myanmar so saya harus berganti pesawat dan pastinya berganti tiket untuk tujuan Thailand ke Myanmar. Sekitar sore pesawat tiba di bandara Suwarnabumi Thailand, dengan perut yang lapar saya mencoba mencari tempat makan. Bandara Suwarnabumi sangatlah luas dan hampir seperti mall yang pastinya banyak tempat makan. Namun ada 3 tempat makan yang saya datangi menolak karna “No Halal food” tidak tersedia makanan halal. Akhirnya saya memilih menuju mushollah untuk shalat. Di mushollah itu saya bertemu petugas cleaning servis asal Malaysia yang menunjukkan tempat makan halal. Lapar bercampur bingung, saya lalu memilih membeli air minum kemasan botol dan roti sambil memperhatikan layar pemberitahuan arah pintu keberangkatan. Saya benar-benar harus memperhatikan karna saya tidak paham Bahasa dan aksara Thailand, so menunggu terus kapan versi Bahasa inggrisnya muncul.

Setelah melihat layar arah pintu keberangkatan, saya bergegas menuju pintu itu. Sesampainya di ruangan tunggu, saya benar-benar bingung, mungkin ini kali pertama saya melakukan perjalanan jauh sendiri. Saya akhirnya memilih mendengarkan music dan membaca buku, lalu tiba-tiba salah seorang Pembina menghubungi saya bahwa akan ada pimpinan yang dari India dan Taiwan, nanti akan berangkat Bersama saya (satu pesawat). Saya lalu dihubungi oleh mereka melalui whatsapp. Ah, plong rasanya karna tidak sendiri lagi. Hanya berselang beberapa menit mereka datang dan kami berangkat bersama ke Nay Pwi Taw. Myanmar.

Waktu sudah malam, ketika kami tiba di bandara. Namun sekali lagi saya merasa aneh, di ruang pemeriksaan imigrasi petugas meminta saya memperlihatkan daun telinga (membuka hijab) tapi saya menolak dan mereka pun tetap meminta, Ms.Deborah:pembina dari Taiwan kemudian menjelaskan ke petugas kalo saya adalah perempuan muslim dan memang tidak bisa membuka hijab. Tiba di ruang kedatangan saya sempat berdiri diam sejenak, seseorang laki-laki anggap saja umurnya sekitar 30an memegang kertas bertuliskan “ Fina irmawati Syam, Indonesia” sepertinya dia adalah penjemput dari hotel tempat saya menginap. Ms.Deborah kemudian menghampiri saya lalu meminta voucher hotel saya, dia lalu meminta saya untuk mengikutinya saja, dan meminta penjemput itu pergi. Dan saya akhirnya menempati kamar hotel Ms.Deborah, sedangkan dia memilih kamar baru yang dekat dengan kamar saya.

Esok paginya, acara dimulai dan saya begitu kaget karna akan mengambil jam pertama untuk persentase. Gugup pastinya, tapi saya selalu yakin bahwa “everything will be ok”. Rasa bangga pasti ada, tapi saya sangat bersyukur di Hotel Kempinsky  pelayanannya sangat baik, walaupun di ruang makan meja makanan untuk muslim terpisah. Tapi bagi saya itu baik, karna saya tidak perlu ragu untuk memilih makanan. Dan karna ada Ms.Deborah yang selalu meminta saya makan bersama dia, tidak boleh jauh dari dia. Ah Ms.Deborah I really miss you. Tak hanya di hotel, jalan-jalan pun saya tidak dibolehkan sendiri. Harus tetap sama dia.

Nay Pwi Taw adalah ibukota Myanmar yang luasnya luar biasa, mungkin terlihat luas karna masih banyak area yang kosong dan tidak ada kemacetan alias jalan sepi. Kalo saya mengukur jalannya bisa di lalui 10 mobil berjejeran. Saat jalan-jalan ini pun saya sempat merasa tidak enak sama Ms.Deborah karna beberapa tempat makan pun sulit kami dapatkan karna tidak menyediakan makanan halal. Bahkan kami tidak menemukan Mushollah atau masjid untuk saya shalat. Saat berkunjung ke pasar tradisional pun terasa aneh, beberapa pasang mata memperhatikan saya. Ah apa karna saya menggunakan hijab jadi sangat kelihatan kalo saya ini muslim. Nay Pwi Taw ini adalah ibu kota baru, perpindahan dari yangoon jadi masih sepi dan memang budayanya masih kental. Terlihat sih, tidak ada perempuan dan laki-laki pake celana, semuanya pake sarung. Hari terakhir di Myanmar saya berdiskusi dengan teman-teman dari negara lain, lalu terakhir saya berdiskusi berdua dengan salah seorang pemuda Myanmar yang muslim. Saya bertanya tentang “Kasus Rohingyya”. Dia menjelaskan sedikit, bahwa sebenarnya kasus rohingyya itu bukan utama didasari oleh perbedaan agama tapi lebih ke perebutan tanah/wilayah.

Sedikit banyak seperti itulah perjalanan saya ke Myanmar, saya tidak bisa menceritakan secara detail tapi kala itu saya benar-benar merasakan bagaimana rasanya menjadi minoritas di negeri mayoritas. Mungkin para pelaku bom bunuh diri itu merasa tenang karna sekalipun dia melakukan itu atas nama “jihad” tetap saja “Islam” tak akan dibenci karna muslim di Indonesia adalah mayoritas. Dan saya pun benar-benar bingung dengan beberapa pendapat yang mengatakan kalo ini adalah pengalihan isu, konspirasi elit poltik lah dll. Saya benar-benar bingung, apa mungkin mereka terlalu focus pada urusan politik saja karna beberapa yang berpendapat seperti ini saya perhatikan hanya sibuk mengkritisi, sibuk beropini sana sini. Harusnya kalo mengkritik yah memberi solusi juga dan pastinya solusinya juga dikerjakan bukan cuma di teorikan.

#Demikian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s