Lapangan Pemuda Bulukumba dalam Rupa Masa Lalu

 

WhatsApp Image 2019-03-07 at 08.40.55

Lapangan pemuda, tempat ter-riuh kala sore hari. Ada banyak lalu lalang orang yang berolahraga sore, berlari-lari kecil, berjalan santai bahkan yang sekedar berswafoto saja. Juga jejeran pelapak jajanan modern, saya sebut modern karna di jejeran itu kita tidak bisa menemukan jajanan tradisional seperti apang, jalang kote dan lainnya.

Sangat jarang orang Bulukumba yang tidak mengenal “Lapangan Pemuda” karna di lokasi inilah banyak kegiatan pemerintahan, kegiatan komunitas dan lainnya di gelar karna tempatnya yang strategis dan bisa dijangkau dari arah manapun. Bahkan untuk kegiatan-kegiatan yang mengharuskan menutup jalan dari kendaraan, area Lapangan pemuda menyediakan jalur alternatif baik yang menuju ke arah atas atau ke arah bawah kota Bulukumba.

Tapi tak banyak yang mengetahui cerita masa lampau tentang Lapangan Pemuda ini, dan saya yang penuh rasa penasaran mencoba menanyakannya pada orang yang tua. Namanya Daeng Tawang, beliau mantan penjaga “Rumah Penjara” di tahun 1981 dan Om cacca pendiri  Teater Kampong.

Sore itu cuaca sedikit mendung, di bangunan tua bekas Rumah Penjara mereka bercerita tentang “Lapangan Pemuda”. Dulunya lapangan pemuda merupakan lokasi eksekusi tahanan “Rumah Penjara” namun ketika pemberontakan DI TII di bawah pimpinan Kahar Muzakkar, lapangan pemuda menjadi lokasi pembantaian para gerilyawan yang merupakan anggota Keresidenan Sulawesi Selatan. Dimana saat itu Bulukumba merupakan wilayah kabupaten Bonthain (Bantaeng).

Para gerilyawan DI TII ini merupakan bataylon di bawah komando Kahar Muzakkar yang kecewa karna tidak diresmikannya mereka menjadi Tentara APRIS. Lalu kemudian menjadi barisan pemberontak. Para gerilyawan yang ditangkap itulah yang kemudian di bantai di lokasi Lapangan pemuda.

Menurutnya di tahun itulah kondisi sangat mencekam,

“Dahulu kala, untuk ke daerah Ela-ela dan Caile (mulai dari jembatan BRI) sudah dianggap daerah yang rawan, istilahnya dulu “Kompi 5”. Ucap Daeng Tawang.

Jika malam sudah tiba, bunyi deru peluru gencatan senjata sudah mulai terdengar. Kebanyakan masyarakat daerah bentengnge (kota Bulukumba) memilih berdiam di rumah. Para gerilyawan muncul di malam hari. DI TII Dulunya menjarah, merampok dll. Berbeda dengan gerilyawan di tahun 1945 yang memang berjuang melawan belanda. Sedangkan yang ini gerombolan yang melakukan pembakaran, mejarah, merampok dll. Walaupun sebenarnya Kahar Muzakkar sebagai komando TII (tentara Islam Indonesia) tidak mengarahkan seperti itu namun anggotanya yang melakukan seperti itu sehingga keadaan menjadi mengerikan dan banyak masyarakat memilih mengungsi ke selayar.

Lapangan pemuda pun sangat erat kaitannya dengan Monumen 40 ribu yang dibangun di area Cekkeng yang merujuk dari aliran darah para korban pembantaian.

“Seharusnya di letakkan di daerah Bentengnge, hanya saja tidak ada lokasi yang memungkinkan untuk membangun monumen. Angka 40 ribu bukanlah jumlah korban nyawa, namun bisa merujuk ke korban jiwa karna merupakan aksi teror.” Ucap Om Cacca.

Angka tersebut memang akan sangat jauh jika dilihat dari data penduduk pada masa tersebut, namun kata “korban 40 ribu jiwa” disini merujuk dari jumlah korban teror bukan hanya korban nyawa. Misalnya saja korban yang pikiran atau jiwanya terganggu karna teror tersebut. Jumlah tersebut juga bisa merujuk ke angka sakral Islam yakni 40. Sehingga pada saat Kahar Muzakkar ditanyakan soal jumlah korban, beliau pun menyebutkan angka “40 ribu jiwa”.

Setelah bercerita singkat, saya mengajak mereka mencoba menghayalkan-mengingat bagaimana hidup di zaman dahulu. Saya pun ikut larut dalam hayalan mereka yang mencoba mendekripsikan lokasi-lokasi zaman dulu.

“ Dulu di sini Rumah Penjara kalo sekarang namanya LAPAS yang kemudian pindah ke Taccorong, ada 2 ruang tahanan, 3 narapidana, 2 dapur, dan 2 kamar wanita. Di samping kiri adalah bangunan kantor polisi yang sekarang jadi POLSEK Ujung Bulu. Di depan sana dulunya kantor “Jennang” atau kantor lurah yang sekarang jadi Kantor Satlantas. Di samping kanan dulunya itu Kantor keuangan. Lalu SMP 164 yang sekarang menjadi kantor Bupati karna kantor Bupati dulu itu yah di sana di Gedung JSN sekarang”

Ada begitu banyak yang berubah, bahkan untuk saya generasi tahun 80-an sudah sulit menemukan cerita-cerita ini. Membayangkan Bulukumba dalam kehidupan dengan bangunan sederhana, tanpa hiruk pikuk kendaraaan, dan pastinya tanpa “krisis moral”. Dan inilah hanyalah penggalan awal dari cerita yang kudapatkan hari itu, selanjutnya saya masih tetap akan berswakisah dengan mereka dan juga dengan yang lainnya.

Bulukumba, 5 maret 2019

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s