BARISAN

 

WhatsApp Image 2019-05-21 at 18.40.53

Di luar rumah sedang riuh, ada barisan yang sedang bertikai teori. Saling sindir sambil mencaci dan menghina. Semuanya beritikai lewat platform media sosial, dan paling banyak di Facebook.

Ada barisan pengagum yang mengagumi seakan yang dikaguminya tak ada celah. Bergerilya di postingan manapun untuk mencari dimana sang idola dikritik, dicaci dan dihina. Mengumpulkan data-data postif sang idola untuk jadi senjata menyerang balik para pengkritik dan penghina. Mencap barisan pembenci adalah barisan para korban “sakit hati” atas keinginan mereka yang tak dikabulkan sang idola.

Ada barisan pembenci yang membenci seakan sang idola tak punya hal yang baik. Segalanya bermakna negatif hingga dibagian yang kecil sekalipun. Kata Nama yang kemudian tertulis Name, mereka maknai “pro asing” meminta untuk dijajah lagi padahal hampir semua orang pernah mengalami typo dalam pengetikan, apalagi jika handphone atau laptopnya ada di mode bahasa Inggris bawaan sejak dibeli di toko. Lalu warna “hitam” yang diganti menjadi warna “putih” mereka maknai mengubah tatanan kehidupan jadi kelam, padahal semua warna itu baik. Bahkan kadang pula mereka beralih “saya tidak punya kepentingan”, ini yang lucu menurut saya. Jikapun memang mengkritik pedisnya tanpa kepentingan, lalu untuk apa mengkritik. Mungkin perlu digaris bawahi, maksudnya “saya tidak punya kepentingan politik” padahal mengkritik pastinya karna kepentingan sosial, agar yang dikritik bisa mengubah sesuatu yang sebelumnya dianggap kurang baik menjadi lebih baik.

Lalu ada barisan oposisi, barisan yang mengagumi sekaligus membenci. Mengagumi hal-hal baik dan membenci hal-hal yang buruk yang dilakukan sang idola. Barisan ini lebih memilih terus bekerja dan berkegiatan. Bagi mereka bertikai tentang baik dan buruk sang idola hanya akan menghabiskan waktu kita. Jika dalam sehari menggunakan waktu 20 menit untuk saling sindir di media sosial bisa habis berapa waktu kita seminggu hanya untuk hal-hal seperti itu. Padahal waktu 20 menit tersebut bisa kita gunakan untuk saling diskusi “karya apa”, “kegiatan apa”, “kerja apa” yang baik untuk kita lakukan. Dan mereka yang mengagumi dan membenci menjadi seperti itu karna terlalu banyak “berharap” pada sang idola, padahal perlu dipilah-pilah juga, apa yang bisa kita harapkan dari sang idola dan apa yang bisa kita kerjakan sendiri. Yang kita perlukan adalah kolaboraksi.

Sejatinya mengagumi dan membenci janganlah berlebihan, karna ketika ada celah maka semuanya bisa terbalik.

Lalu kamu ada di barisan mana ?

Foto by Nadir

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s